Hatten Bali ungkap strategi bisnis di tengah tantangan pasar wine
JAKARTA – PT Hatten Bali Tbk (WINE), produsen minuman berbahan dasar anggur atau wine yang berbasis di Bali, masih membukukan pertumbuhan pendapatan pada semester I 2025.
Presiden Direktur WINE, Ida Bagus Rai Budarsa, mengatakan pendapatan pada semester I 2025 masih tumbuh di kisaran 6% secara tahunan, atau dari semester yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan itu, kata Rai, terjadi di tengah tantangan yang dihadapi produsen anggur, baik di Indonesia maupun di berbagai negara.
“Kalau kita lihat secara umum, market banyak yang turun di industri minuman alkohol yang lain, cuma kita masih bisa naik 6%,” ungkap Rai dalam sesi Emiten Chat, yang digelar Kiwoom Sekuritas pada Selasa (29/7) hari ini.
Namun meski pendapatan tumbuh positif, Rai mengakui bahwa laba bersih perusahaan di semester I 2025 sedikit menurun, akibat lonjakan beban produksi dan operasional.
“Profit kita memang menurun, dibandingkan tahun lalu, karena HPP (harga pokok penjualan) kita ada kenaikan 4%, dulunya 54% sekarang 58% HPP,” jelas Rai.
Sebelumnya pada Juni 2025, WINE menargetkan pendapatan dan laba bersih hingga akhir tahun ini bisa tumbuh masing-masing 14% dan 20%.
Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, WINE memperkirakan target double-digit itu bisa dicapai pada 2026 mendatang.
Sementara pada tahun ini, Rai tetap optimis kinerja WINE bisa tumbuh positif, didukung lonjakan wisatawan mancanegara yang berlibur ke Bali—pasar utama bagi produk perusahaan.
Rai menambahkan, tahun ini WINE juga telah menyiapkan belanja modal atau Capital Expenditure (Capex) sebesar Rp26 miliar. Seluruh anggaran ini akan dipakai untuk pembelian alat penunjang produksi, tambahan lahan untuk kebun anggur, dan armada penunjang distribusi.
Saat ini WINE telah mengelola 30 hektar kebun anggur. Dengan belanja modal tersebut, kata Rai, perseroan akan mendapat tambahan 5 hektar lahan untuk ekspansi kebun anggur.
Hingga kuartal I 2025, pendapatan WINE mencapai Rp57,69 miliar, tumbuh 5,39% secara tahunan. Sementara laba bersihnya turun 17% secara tahunan menjadi sebesar Rp7,99 miliar. (KR)